Tata Cara Zikir Lazim Pagi dan Sore Tijaniyah

Tata Cara Zikir Lazim Pagi dan Sore Tijaniyah: Bacaan Arab, Latin, Niat, dan Terjemahan

Wirid lazim merupakan amalan harian dalam Tarekat Tijaniyah yang dikerjakan dua kali sehari: pagi dan sore. Susunan pokoknya ialah istigfar, selawat kepada Nabi Muhammad ﷺ, dan tahlil, masing-masing 100 kali. Bacaan inti pagi dan sore sama; yang berbeda adalah waktu pelaksanaan dan niatnya.

Dengan memahami makna bacaannya, kita dapat menjalani zikir sebagai waktu untuk memohon ampun, berselawat, dan memperbarui kesadaran akan keesaan Allah.

Waktu Zikir Lazim Pagi dan Sore

Wirid Waktu pilihan Waktu darurat karena uzur
Lazim pagi Setelah salat Subuh hingga menjelang Zuhur, pada bagian akhir waktu duha. Sesudah waktu pilihan hingga Magrib.
Lazim sore Setelah salat Asar hingga masuk waktu Isya. Sesudah Isya hingga terbit fajar.

Waktu darurat bukan pilihan rutin untuk menunda tanpa uzur. Agar mudah menjaga kebiasaan, sediakan waktu setelah Subuh dan setelah Asar. Jadwal mengikuti waktu salat setempat. Ketentuan mendahulukan wirid pada malam hari dan mengqada wirid memiliki rincian tersendiri; pelajarilah bersama muqaddam. [2]

Persiapan dan Adab

Siapkan diri dalam keadaan suci dari hadas sesuai ketentuan bersuci, badan dan pakaian bersih dari najis, tempat suci, serta aurat tertutup. Duduk dengan tenang dan menghadap kiblat merupakan adab penyempurna. Lazim dibaca sendiri dengan suara pelan, tetap melafalkan bacaan menggunakan lisan. Hindari percakapan, makan, minum, dan kegiatan yang mengalihkan perhatian selama wirid. Ketentuan uzur dan keadaan khusus mengikuti arahan muqaddam. [2]

Tasbih atau penghitung digital dapat membantu mencatat jumlah. Baca perlahan agar huruf dan maknanya terjaga. Tulisan latin merupakan bantuan awal; pelafalan sebaiknya dipelajari langsung dari guru.

1. Niat Zikir Lazim

Hadirkan niat dalam hati untuk mengamalkan wirid lazim pagi atau sore karena Allah. Tidak ada klaim bahwa contoh lafaz berikut merupakan satu-satunya niat yang diwajibkan dalam seluruh jalur Tijaniyah.

Contoh lafaz niat pagi

نَوَيْتُ قِرَاءَةَ الْوِرْدِ اللَّازِمِ الصَّبَاحِيِّ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu qirā’atal-wirdil-lāzimish-shabāḥiyyi lillāhi ta‘ālā.

Arti: “Saya berniat membaca wirid lazim pagi karena Allah Taala.”

Contoh lafaz niat sore

نَوَيْتُ قِرَاءَةَ الْوِرْدِ اللَّازِمِ الْمَسَائِيِّ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu qirā’atal-wirdil-lāzimil-masā’iyyi lillāhi ta‘ālā.

Arti: “Saya berniat membaca wirid lazim sore karena Allah Taala.”

2. Pembuka: Taawuz dan Al-Fatihah

Taawuz dan Al-Fatihah termasuk bacaan pembuka dalam contoh susunan lazim, bukan tiga bacaan inti yang dihitung 100 kali. Sebagian panduan Indonesia menyertakan hadiah Al-Fatihah kepada Rasulullah ﷺ dan Syekh Ahmad at-Tijani. Ikuti susunan pembuka yang diajarkan muqaddam. [3]

Taawuz — 1 kali

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Latin: A‘ūdzu billāhi minasy-syaiṭānir-rajīm.

Arti: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

Al-Fatihah — 1 kali

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ۝
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ۝
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ۝
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ۝
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ۝
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ۝

Latin:
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn.
Ar-raḥmānir-raḥīm.
Māliki yaumid-dīn.
Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn.
Ihdinash-shirāṭal-mustaqīm.
Shirāṭal-ladzīna an‘amta ‘alaihim, ghairil-maghḍūbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn.

Terjemahan makna: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula mereka yang sesat.”

Sesudah Al-Fatihah dapat membaca:

آمِينَ

Latin: Āmīn. Arti: “Ya Allah, kabulkanlah.” Amin bukan bagian dari ayat Al-Fatihah.

3. Istigfar — 100 Kali

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

Latin: Astaghfirullāh.

Arti: “Aku memohon ampun kepada Allah.”

Baca 100 kali. Rujukan fikih Tijaniyah menetapkan lafaz pendek ini untuk istigfar lazim. Jangan tertukar dengan istigfar panjang pada wirid wazifah. [2]

4. Selawat Fatih — 100 Kali

Sesudah istigfar, baca selawat kepada Nabi 100 kali. Selawat Fatih merupakan pilihan utama dalam panduan Tijaniyah. Teks berikut mengikuti redaksi yang tercantum pada Tidjaniya.com. [1]

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ، وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيمِ

Latin: Allāhumma shalli ‘alā sayyidinā Muḥammadinil-fātiḥi limā ughliqa, wal-khātimi limā sabaqa, nāshiril-ḥaqqi bil-ḥaqqi, wal-hādī ilā shirāṭikal-mustaqīm, wa ‘alā ālihi ḥaqqa qadrihi wa miqdārihil-‘aẓīm.

Terjemahan makna: “Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, pembuka apa yang tertutup, penutup apa yang telah terdahulu, pembela kebenaran dengan kebenaran, dan penunjuk menuju jalan-Mu yang lurus; serta kepada keluarganya, sesuai dengan kedudukan dan derajatnya yang agung.”

Satu hitungan berarti membaca seluruh teks selawat sampai selesai. Ada panduan lokal yang mencantumkan tambahan “wa shaḥbihi”. Untuk praktik, pertahankan redaksi yang diterima melalui talqin; jangan mencampur berbagai versi tanpa bimbingan. [3]

5. Tahlil — 100 Kali

لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

Latin: Lā ilāha illallāh.

Arti: “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.”

Baca 100 kali. Setelah tahlil yang ke-100, sambungkan dengan:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ، عَلَيْهِ سَلَامُ اللَّهِ

Latin: Muḥammadur-rasūlullāh, ‘alaihi salāmullāh.

Arti: “Muhammad adalah utusan Allah. Semoga salam Allah tercurah kepadanya.”

Tambahan ini mengikuti redaksi Tidjaniya.com. Sejumlah panduan Indonesia memakai tambahan “sayyidunā” serta penutup lain. Ikuti redaksi talqin untuk pengamalan pribadi. [1] [3]

6. Bacaan Penutup atau Takhtim

Berikut bacaan yang muncul dalam contoh penutup lazim Tidjaniya.com. Bacaan tambahan ini dibedakan dari tiga bacaan inti. Rujukan tersebut juga mencontohkan ayat akhir Surah Ash-Shaffat sebagai bacaan penghubung setelah istigfar dan setelah selawat; bila diajarkan demikian, gunakan teks yang sama di bawah. [1]

Surah Al-Ahzab ayat 56 — 1 kali

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Latin: Innallāha wa malā’ikatahu yushallūna ‘alan-nabiyy. Yā ayyuhal-ladzīna āmanū shallū ‘alaihi wa sallimū taslīmā.

Terjemahan makna: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kepadanya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”

Selawat dan salam — 1 kali

صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا

Latin: Shallallāhu ta‘ālā ‘alaihi wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi wa sallama taslīmā.

Arti: “Semoga Allah Taala melimpahkan selawat dan salam kepadanya, kepada keluarganya, serta para sahabatnya.”

Surah Ash-Shaffat ayat 180–182 — 1 kali

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ۝
وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ ۝
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝

Latin: Subḥāna rabbika rabbil-‘izzati ‘ammā yashifūn. Wa salāmun ‘alal-mursalīn. Wal-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn.

Terjemahan makna: “Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang Mahaperkasa, dari apa yang mereka sifatkan. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada para rasul. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”

7. Doa Setelah Zikir

Sesudah wirid dan penutupnya, berdoalah kepada Allah. Rujukan yang digunakan tidak menetapkan satu teks doa akhir yang wajib seragam. Apabila muqaddam mengajarkan doa penutup khusus, gunakan doa tersebut. Berikut dua doa Al-Qur’an yang dapat dibaca sebagai doa umum; jumlahnya tidak termasuk hitungan inti lazim.

Memohon ampunan dan rahmat — Al-A‘raf ayat 23

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Latin: Rabbanā ẓalamnā anfusanā wa il lam taghfir lanā wa tarḥamnā lanakūnanna minal-khāsirīn.

Terjemahan makna: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Memohon kebaikan dunia dan akhirat — Al-Baqarah ayat 201

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Latin: Rabbanā ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirati ḥasanah, wa qinā ‘adzāban-nār.

Terjemahan makna: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”

Akhiri dengan amin. Setelah itu, lanjutkan doa pribadi, misalnya memohon keteguhan beribadah, perbaikan akhlak, kebaikan keluarga, dan kemampuan menjaga amanah.

Ringkasan Urutan Bacaan

Urutan Bacaan Jumlah/keterangan
1 Niat pagi atau sore Dalam hati; lafaz contoh bersifat bantuan.
2 Taawuz dan Al-Fatihah Masing-masing 1 kali; pembuka sesuai bimbingan.
3 Astaghfirullāh 100 kali — inti.
4 Selawat Fatih 100 kali — selawat merupakan inti.
5 Lā ilāha illallāh 100 kali — inti; sambungkan penutup pada bacaan terakhir.
6 Takhtim Ikuti susunan yang diajarkan.
7 Doa Doa dari muqaddam atau doa umum yang baik.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah bacaan lazim pagi dan sore berbeda?

Tiga bacaan intinya sama. Sesuaikan niat dan waktu pelaksanaan.

Apakah Jauharatul Kamal dibaca dalam lazim?

Jauharatul Kamal tidak termasuk susunan inti lazim. Bacaan itu berada dalam wirid wazifah, yang memiliki susunan dan ketentuan tersendiri. [2]

Apakah niat harus menggunakan bahasa Arab?

Yang diperlukan adalah niat untuk wirid yang dikerjakan. Contoh bahasa Arab di artikel ini membantu mengungkapkannya; jangan menganggapnya satu lafaz baku yang berlaku untuk semua jalur.

Bagaimana jika lupa, terlewat, atau ragu hitungannya?

Ketentuan qada, urutan wirid yang tertinggal, dan perbaikan kekeliruan memiliki rincian dalam fikih tarekat. Mintalah penjelasan muqaddam sesuai keadaan yang terjadi. Jangan mengganti jumlah atau menyusun sendiri cara perbaikannya.

Rujukan

  1. Tidjaniya.com — Tariqa Tidjaniya Fiqh: susunan inti, contoh bacaan tambahan, dan pelaksanaan lazim.
  2. Tidjaniya.com — Fiqh ath-Thariqah at-Tijaniyyah: syarat, bacaan, waktu, dan rincian fikih tarekat.
  3. Alif.ID — Sabilus Salikin (169): Aurad Tarekat Tijaniyah: pembanding susunan yang dijelaskan dalam konteks Indonesia.
  4. Al-Qur’an: Al-Fatihah 1–7; Al-Ahzab 56; Ash-Shaffat 180–182; Al-A‘raf 23; Al-Baqarah 201. Terjemahan di artikel merupakan terjemahan makna.
Tarekat Tijaniyah
Tarekat Tijaniyah
Articles: 1